- Peningkatan Branding Kawasan Pantai melalui Eksplorasi Karakteristik Alam Sekitar
- MotoGP Mandalika 2026: Sempurna! Marco Bezzecchi Juara, Dominasi Mutlak Aprilia Kuasai Top 4
- Hasil Sprint Race MotoGP Mandalika: Marc Marquez Segel Kemenangan Perdana di Lombok
- Banjir Bandang dan Longsor Dahsyat Terjang Gorkha, Infrastruktur Vital Hancur Total
- Kondisi, Pasca Bajir Bandang di wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat
- Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Apakah Libur? Cek Informasinya
- Kronologi Peristiwa Berdarah G30S PKI, Sejarah Kelam Bangsa Indonesia!
- Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang Jadi Pemimpin Lapangan Peristiwa G30S/PKI
- Pencarian Korban KM Virgo Resmi Diperpanjang hingga 7 Hari ke Depan
- Fenomena Batuk Berlama-lama Marak di Masyarakat: Apakah Gejala Covid-19 atau Faktor Lain ?
Banjir Bandang dan Longsor Dahsyat Terjang Gorkha, Infrastruktur Vital Hancur Total

Kategori: Internasional | Oleh: Redaksi Internasional | Diterbitkan: Senin, 12 Oktober 2026
Zona Today Bencana Nepal - Bencana banjir bandang dan tanah longsor dahsyat kembali menerjang wilayah Nepal bagian tengah pada Minggu (11/10/2026) dini hari, memicu kerusakan parah di sepanjang aliran Sungai Budhi Gandaki. Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Nepal melaporkan bahwa luapan air bercampur lumpur, batu, dan puing-puing material menghanyutkan puluhan rumah warga serta melumpuhkan sejumlah infrastruktur vital. Peristiwa ini memaksa ratusan warga dan turis asing di kawasan perbukitan Distrik Gorkha dievakuasi secara darurat. Menurut laporan resmi dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal, Dharam Raj Uprety, petaka hidrometeorologi ini diduga kuat dipicu oleh fenomena tanah longsor kering di kawasan hulu Siuribas, Desa Chumnubri. Material longsoran tersebut sempat membendung aliran anak sungai, menciptakan bendungan alami temporer yang kemudian jebol akibat tekanan volume air yang tinggi, lalu melepas gelombang banjir bandang ke wilayah hilir tepat sebelum fajar.
Dampak Kerusakan Parah dan Warga yang Hilang
Derasnya arus banjir bandang berwarna gelap yang terekam kamera amatir warga memperlihatkan pemandangan mengerikan saat material sungai menghantam pemukiman di wilayah Chumnubri dan Dharche. Berdasarkan data taktis penanganan darurat hingga awal pekan ini, dampak kerusakan mencakup beberapa sektor penting:
- Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang Jadi Pemimpin Lapangan Peristiwa G30S/PKI0
- Update Perolehan Medali SEA Games 2026: Perjuangan Indonesia Kian Berat di Papan Atas0
- Jeda Turnamen Internasional: Panggung Zinedine Zidane Optimalkan Strategi Les Bleus0
- Menatap Derby Nusantara: Persiapan Matang Timnas Indonesia Hadapi Malaysia di FIFA ASEAN Cup 20260
- Ajang Balas Dendam Tuntas! Timnas Indonesia Bungkam Singapura di Laga Pembuka FIFA ASEAN Cup 20260
- Pemukiman Warga: Sedikitnya 35 hingga 45 unit rumah tinggal dilaporkan hanyut tersapu arus banjir tanpa sisa.
- Infrastruktur Jembatan: Empat jembatan krusial hancur, termasuk jembatan gantung utama yang menghubungkan wilayah Nyakchet dan Philim Bazaar di Chumnubri-3.
- Sektor Energi: Tiga proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang koridor sungai mengalami kerusakan parah pada bagian fasilitas pekerja dan alat berat.
- Korban Jiwa: Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban meninggal dunia, namun sedikitnya lima orang warga lokal dikonfirmasi hilang dan putus kontak.
Ancaman Bencana Berulang Setelah Tragedi Agustus
Banjir bandang pertengahan Oktober 2026 ini melanda ketika Nepal masih tertatih-tatih memulihkan diri dari bencana banjir besar berskala katastrofe pada akhir Agustus lalu. Seperti diketahui, runtuhnya gletser di Langtang Lirung pada 26 Agustus 2026 sempat memicu banjir bandang masif di sepanjang Sungai Trishuli yang menewaskan lebih dari 1.400 orang dan menyisakan ribuan korban hilang di perbatasan Nepal-Tibet.
Organisasi pemerhati lingkungan internasional *International Centre for Integrated Mountain Development* (ICIMOD) memperingatkan bahwa fenomena jebolnya bendungan alami akibat tanah longsor (*landslide-dam breach*) ini menjadi alarm keras mengenai tingginya kerentanan komunitas pegunungan terhadap ancaman bencana berantai di era perubahan iklim. Otoritas setempat terus mengeluarkan imbauan tegas agar seluruh masyarakat di sepanjang bantaran Sungai Budhi Gandaki, Trishuli, dan Narayani segera berpindah ke wilayah dataran tinggi demi mengantisipasi adanya lonjakan volume air susulan.











