ZONA TODAY JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, berlangsung cukup fluktuatif. Sempat dibuka di zona hijau dan menyentuh level 6.462, IHSG kemudian berbalik arah hingga akhirnya ditutup melemah 0,69 persen ke posisi 6.365,37. Menariknya, di tengah tekanan indeks, investor asing masih mencatatkan aksi beli bersih dan mengakumulasi sejumlah saham pilihan.
IHSG 10 Agustus 2026 Berbalik Arah
Pasar saham Indonesia mengawali perdagangan pekan ini dengan optimisme. IHSG sempat bergerak naik setelah pembukaan dan mencapai level tertinggi harian di sekitar 6.462. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir sesi perdagangan.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG akhirnya turun 44,28 poin atau 0,69 persen ke level 6.365,37. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 6.362 hingga 6.462.
- UPN Veteran Jatim Perkuat Branding Digital Sanggar Nampani lewat Website dan Konten Kreatif0
- Bromo Terbakar Hebat, Menhut Turun ke Lokasi! Ada Apa dengan Gunung Bromo0
- Gunung Bromo Terbakar, Api Meluas hingga 176 Hektare! Wisata Ditutup Total0
- Persib Runner-up, Persija Amankan Posisi Ketiga Piala Presiden 20260
- Persebaya Akhirnya Juara Piala Presiden 2026! Sejarah Baru Bajul Ijo Tercipta Lewat Drama Penalti0
Pelemahan tersebut terjadi setelah IHSG pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, ditutup di level 6.409,65. Dengan demikian, tekanan jual pada awal pekan menghapus sebagian penguatan yang sebelumnya berhasil diraih pasar.
Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah
Tekanan terhadap IHSG terlihat dari komposisi saham yang diperdagangkan. Pada akhir sesi, sebanyak 329 saham melemah, sedangkan 287 saham berhasil menguat dan 180 saham lainnya bergerak stagnan.
Pelemahan juga terjadi pada sebagian besar sektor saham. Sektor barang konsumen primer menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling besar dengan penurunan sekitar 1,37 persen.
Sejumlah sektor lain seperti industri, teknologi, kesehatan, properti, energi dan keuangan juga bergerak melemah. Di sisi lain, sektor transportasi justru mencatat penguatan yang cukup menonjol pada perdagangan hari itu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan IHSG bukan hanya disebabkan oleh satu saham, melainkan merupakan kombinasi tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar serta perubahan sentimen investor sepanjang sesi perdagangan.
Asing Masih Beli Saham Meski IHSG Turun
Ada fakta menarik di balik pelemahan IHSG 10 Agustus 2026. Ketika indeks berada di zona merah, investor asing justru masih membukukan net buy sekitar Rp829,7 miliar di seluruh pasar.
Artinya, penurunan IHSG tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh investor asing meninggalkan pasar saham Indonesia. Sebagian dana asing masih mengalir ke emiten tertentu yang dianggap memiliki prospek menarik.
Salah satu saham yang paling mencolok dalam aktivitas pembelian asing adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Saham tersebut mencatat net buy asing sekitar Rp1,4 triliun pada perdagangan 10 Agustus.
Selain DSSA, investor asing juga tercatat melakukan pembelian bersih pada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
DSSA Jadi Saham yang Paling Banyak Dikoleksi Asing
Perhatian investor tertuju pada DSSA karena nilai pembelian bersih asingnya jauh lebih besar dibanding sejumlah saham lain pada hari yang sama.
Aksi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa meskipun pasar secara keseluruhan mengalami koreksi, investor masih melakukan strategi selective buying. Investor tidak serta-merta membeli seluruh saham, tetapi memilih emiten tertentu berdasarkan prospek, momentum dan sentimen pasar.
Pola seperti ini penting diperhatikan oleh investor ritel. Ketika IHSG turun, pergerakan masing-masing saham dapat berbeda. Ada saham yang ikut tertekan, tetapi ada pula yang tetap menjadi sasaran akumulasi.
BBCA dan BBNI Masih Dilirik Investor Asing
Sektor perbankan juga tetap mendapatkan perhatian. Saham BBCA mencatat net buy asing sekitar Rp75,1 miliar, sementara BBNI membukukan net buy sekitar Rp23,59 miliar.
Masuknya dana asing ke saham perbankan menunjukkan bahwa sektor keuangan masih menjadi salah satu pilihan investor di tengah volatilitas pasar.
Meski demikian, data net buy tidak boleh langsung diartikan sebagai jaminan bahwa harga saham akan terus naik. Pergerakan harga tetap dipengaruhi kondisi pasar, kinerja perusahaan, valuasi, sentimen global dan keputusan investor lainnya.
Saham Apa yang Sebelumnya Banyak Diburu Asing?
Jika melihat perdagangan sepanjang pekan sebelumnya, pola pembelian asing juga menunjukkan minat kuat terhadap sejumlah saham besar. Pada periode 3–7 Agustus 2026, investor asing mencatat net foreign buy sekitar Rp695,17 miliar.
Dalam periode tersebut, BBRI menjadi salah satu saham yang paling banyak dibeli investor asing dengan nilai net foreign buy sekitar Rp559 miliar. Saham lain yang masuk daftar pembelian terbesar antara lain TINS, DSSA, MGLV, ANTM, BRPT, BBCA, GGRM, BBNI dan ICBP.
Data tersebut memperlihatkan bahwa minat asing tidak hanya terkonsentrasi pada sektor perbankan, tetapi juga merambah sektor komoditas, bahan baku dan sejumlah perusahaan dengan kapitalisasi besar.
Kenapa IHSG Sempat Menguat lalu Berbalik Turun?
Perubahan arah IHSG sepanjang perdagangan menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat dinamis. Pada awal sesi, optimisme investor mendapat dukungan dari kinerja IHSG pada pekan sebelumnya yang berhasil mencatat penguatan cukup signifikan.
Namun, tekanan kemudian muncul pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Ketika saham-saham dengan bobot besar di indeks mengalami koreksi, pengaruhnya terhadap IHSG menjadi lebih terasa.
Kondisi bursa global dan regional juga menjadi bagian dari sentimen yang diperhatikan pelaku pasar. Karena itu, pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh kondisi perusahaan di dalam negeri, tetapi juga oleh perkembangan ekonomi dan pasar keuangan internasional.
Rupiah Justru Menguat di Tengah IHSG yang Melemah
Pergerakan pasar saham pada 10 Agustus juga menarik karena terjadi ketika nilai tukar rupiah justru menguat.
Rupiah di pasar spot tercatat menguat sekitar 0,8 persen ke level Rp17.755 per dolar AS. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penguatan mata uang tidak otomatis membuat IHSG ikut naik.
Pasar saham dan pasar valuta asing memiliki mekanisme serta sentimen yang berbeda. Investor dapat memberikan respons berbeda terhadap masing-masing instrumen berdasarkan faktor ekonomi, kebijakan moneter, arus modal dan prospek perusahaan.
Kutipan Analis: IHSG Masih Punya Ruang Bergerak
Sebelum perdagangan dimulai, Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman melihat IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak positif.
“Hari ini IHSG berpotensi bergerak kembali menguat.”
— Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas
Dalam proyeksinya sebelum perdagangan, Fanny memperkirakan area support IHSG berada pada kisaran 6.320–6.370, sedangkan area resistance berada di sekitar 6.440–6.520.
Pergerakan aktual pada Senin menunjukkan bahwa IHSG memang sempat masuk ke area resistance sebelum akhirnya berbalik turun dan mendekati area support.
Lalu, Saham Apa yang Jadi Perhatian Investor?
Dari aktivitas transaksi asing pada perdagangan 10 Agustus, DSSA, BNBR, BBCA dan BBNI menjadi beberapa saham yang mencatat pembelian bersih asing.
Sementara dari rekomendasi perdagangan yang dirilis sebelum pasar dibuka, sejumlah saham yang masuk radar analis antara lain BMTR, TINS, DSSA, EMAS, RAJA dan MLPL.
Namun, penting untuk membedakan antara saham yang dibeli asing dan saham rekomendasi analis. Keduanya bukan hal yang sama. Aktivitas net buy menggambarkan transaksi bersih investor asing, sedangkan rekomendasi analis merupakan pandangan berdasarkan analisis tertentu dan bukan jaminan keuntungan.
Investor Ritel Perlu Waspada, Jangan Sekadar Ikut Arus
Bagi investor ritel, kondisi seperti perdagangan 10 Agustus menjadi pengingat bahwa pergerakan IHSG tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi awal.
IHSG sempat menghijau saat pembukaan, tetapi tekanan jual kemudian membuat indeks berbalik melemah. Karena itu, keputusan membeli saham sebaiknya tidak hanya didasarkan pada headline seperti “asing borong saham” atau “IHSG diprediksi menguat”.
Investor tetap perlu melihat fundamental emiten, laporan keuangan, valuasi, tren harga, likuiditas, risiko dan tujuan investasi masing-masing.
IHSG 10 Agustus 2026 dalam Angka
| Indikator | Data |
|---|---|
| Penutupan IHSG | 6.365,37 |
| Perubahan | Turun 0,69% |
| Perubahan poin | -44,28 poin |
| Level tertinggi | 6.462 |
| Level terendah | 6.362 |
| Saham menguat | 287 saham |
| Saham melemah | 329 saham |
| Saham stagnan | 180 saham |
| Net buy asing | Sekitar Rp829,7 miliar |
| Net buy asing terbesar | DSSA sekitar Rp1,4 triliun |
Kesimpulan: IHSG Turun, tetapi Asing Belum Pergi
Perdagangan saham pada 10 Agustus 2026 memberikan gambaran bahwa koreksi IHSG tidak berarti seluruh investor meninggalkan pasar Indonesia. Indeks memang berakhir turun 0,69 persen ke 6.365,37, tetapi investor asing masih membukukan net buy sekitar Rp829,7 miliar.
DSSA menjadi salah satu saham yang paling mencolok karena mencatat net buy asing sekitar Rp1,4 triliun, sementara BBCA dan BBNI juga masih mendapatkan aliran dana asing.
Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat pasar secara lebih detail. Ketika IHSG turun, tetap ada saham tertentu yang menjadi sasaran akumulasi. Sebaliknya, saham dengan kapitalisasi besar juga dapat mengalami tekanan dan menyeret indeks secara keseluruhan.
Jadi, pertanyaan “saham apa yang paling banyak diburu investor?” pada perdagangan 10 Agustus 2026 tidak memiliki satu jawaban untuk seluruh pasar. Namun dari sisi aktivitas asing, DSSA menjadi nama yang paling menonjol, diikuti beberapa saham perbankan dan emiten lainnya.













